Entri Populer

Entri Populer

Tampilkan postingan dengan label Dampak Lingkungan. Go Green.Selamatkan Bumi Kita.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dampak Lingkungan. Go Green.Selamatkan Bumi Kita.. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Oktober 2014

Pengertian Bilangan Oktan (RON) dan Hubungan RON dengan Knocking



Mesin kendaraan saat ini memiliki rasio kompresi yang tinggi. Bahkan di pasaran sekarang, ada yang rasionya sudah mencapai 14:1. Karena itu lah BBM beroktan tinggi sangat dianjurkan.
Sebenarnya apa sih bilangan oktan atau sering disebut RON (Real Octane Number)? RON adalah angka yang mempresentasikan ketahanan bahan bakar terhadap kompresi di dalam mesin tanpa meledak sendiri. Maka mesin dengan kompresi yang tinggi membutuhkan bahan bakar dengan angka oktan yang tinggi.
Pada operasi normal mesin, campuran bahan bakar dan udara akan terbakar/meledak setelah ada percikan api yang dikirim busi. Dengan cara ini ledakan selalu diatur pada saat yang tepat supaya energi hasil ledakan menghasilkan tenaga mekanik yang besar.

Sementara bahan bakar dengan angka oktan yang lebih rendah dari yang dibutuhkan mesin bisa meledak sendiri pada akhir proses kompresi. Hal ini akan mengakibatkan tabrakan antara bahan bakar yang meledak sendiri dengan bahan bakar yang dinyalakan busi. Tabrakan itu biasa dikenal dengan "ngelitik" atau knocking.
Proses Terjadinya Knocking


Efeknya, energi mekanik yang dibangkitkan tidak bisa optimal. Mesin akan lebih panas. Pada kasus yang lebih ekstrem bisa membuat piston rusak sampai berlubang.
Akibat Knocking
 

Pada mesin modern, efek knocking akibat bahan bakar dengan oktan rendah memang bisa diatasi dengan memajukan waktu pengapiannya. Tapi, cara ini akan menyebabkan tenaga tidak keluar secara optimal. Akibatnya, konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros. (detik.com)

Rabu, 10 September 2014

Bahan Bakar Dari Bakteri



Untuk pertamakalinya ilmuwan memproduksi bahan bakar Propana dari sumber terbarukan, yakni bakteri E.coli yang umum ditemui di dalam tubuh manusia. Bahan bakar unik ini bisa diproduksi masal dalam waktu sepuluh tahun. Ilmuwan Inggris dan Finnlandia sukses memproduksi bahan bakar Propana terbarukan dengan memanfaatkan bakteri yang umum ditemui pada usus manusia. Terobosan teranyar ini diyakini akan dapat diproduksi secara massal dalam waktu dekat.

"Walaupun kami baru mampu memproduksi dalam jumlah kecil, bahan bakar yang kami buat bisa langsung dipakai untuk menggerakkan mesin," kata salah seorang peneliti yang terlibat, Patrick Jones dari Imperial College London.

Jones meyakini, kendati penelitian yang dijalankannya baru pada tahap awal, Propana berbasis bakteri bisa diproduksi secara komersial dalam waktu lima hingga sepuluh tahun. Propana termasuk energi yang ramah lingkungan karena kandungan karbonnya yang rendah.

Ramah Lingkungan dan Berbiaya Murah

Dalam bentuknya yang ada saat ini, Propana bisa ditemui sebagai Gas Alam Cair atau Liquid Natural Gas yang digunakan untuk kompor atau kendaraan. Sejauh ini Propana diproduksi sebagai produk sampingan dari pengolahan gas alam atau minyak mentah.

"Bahan bakar fossil jumlahnya terbatas dan kita harus mencari cara baru untuk menutupi kebutuhan energi yang terus meroket," kata Jones. Menurutnya tantangan terbesar buat ilmuwan adalah mengembangkan proses pengolahan yang ramah lingkungan, berbiaya murah dan memiliki prespektif jangka panjang secara ekonomi.

Saat ini Alga juga bisa digunakan buat memproduksi Biodiesel. Namun produksinya dipandang tidak ekonomis karena mahalnya biaya panen dan pengolahan. "Kami memilih Propana karena senyawa ini bisa diolah dengan energi yang sedikit. Dan Propana juga sudah memiliki infrastruktur di seluruh dunia. Jadi mudah digunakan," kata Jones.

Bakteri dalam Usus

Dalam penelitiannya, tim ilmuwan dari Imperial College London dan University of Turku, Finnlandia, menggunakan bakteri Escherichia coli alias E.coli untuk menginterupsi proses biologis yang mengbah asam lemak menjadi membran sel.

Ilmuwan lalu menggunakan enzim untuk menyalurkan asam lemak sehingga merangsang produksi Propana dan bukan membran sel. Jonas mengakui pihaknya saat ini masih menyempurnakan proses pengolahan.

"Saya harap dalam waktu dekat kami sudah bisa mengembangkan proses pengolahan komersil," katanya.
(DW.Indonesia)

Rabu, 01 Januari 2014

Memulai Energi Terbarukan dari Rumah Sendiri



Hampir seluruh tenaga surya Australia datang dari atap rumah-rumah pribadi. Tidak ada kekurangan sinar matahari, namun untuk mengembangkan energi surya, sebuah solusi penyimpanan dibutuhkan.
Pembangkit tenaga surya skala besar umum ditemui di Jerman, namun di Australia peralihan ke energi terbarukan justru lebih banyak terjadi pada skala individu. Lebih dari satu juta rumah di Australia kini memiliki panel surya, namun bagaimana cara menyimpan energi untuk saat dibutuhkan muncul sebagai tantangan berikutnya.
Kebanyakan energi terbarukan Australia, dan sebagian besar upayanya tersebar dalam bentuk panel surya di atap-atap rumah di pinggiran kota.
Peter Holland memanfaatkan tenaga surya di rumah namun membutuhkan sebuah generator untuk mengoperasikan peralatan rumah tangga bertenaga besar
Ini datang dengan sejumlah tantangan, dan operator jaringan listrik mulai mengambil langkah untuk membatasi jumlah tenaga surya yang bisa ditambahkan ke sebuah wilayah. Di negara bagian Australia Barat, perusahaan negara Western Power mencegah instalasi skala besar - lebih besar dari 30 kilowatt peak (kWp) - untuk memasok listrik ke jaringan. Perusahaan yang menyuplai wilayah pedesaan di negara bagian, Horizon Power, bulan Oktober 2013 mengumumkan bahwa apabila sebuah sistem tenaga surya dibangun, harus dilengkapi dengan semacam teknologi 'pemulusan energi terbarukan' - pada dasarnya sejenis baterai.
Terbatasnya Kapasitas Baterai
Saat ini masalahnya adalah baterai entah terlalu mahal atau tidak efisien. Bahkan rumah-rumah yang memiliki instalasi surya relatif besar kerap kali tidak dapat hanya bergantung pada sumber tersebut - bahkan di bawah matahari Australia yang terik.
"Masalah utamanya untuk saya adalah teknologi penyimpanan listrik tidak banyak berkembang dalam 41 tahun terakhir saya tinggal di sini," ungkap Peter Holland, seorang warga yang tinggal tak jauh dari ibukota negara bagian, Perth.
"Saya selalu punya penyimpanan 12 baterai 2 volt, tapi jumlah yang terbuang begitu banyak," kata Holland. "Baterai relatif tidak efisien dan mereka sangat mahal." Oleh karena itu sistem Holland yang tidak terhubung dengan jaringan membutuhkan sebuah generator sebagai cadangan saat matahari tidak bersinar atau kala menyalakan alat rumah tangga bertenaga besar.
Potensi Pengurangan Biaya
Menjawab keluhan Peter Holland, sebenarnya sudah ada sejumlah perkembangan terkait penyimpanan listrik - terutama menyangkut baterai. Bahkan analis energi dan akademisi Ray Wills mengatakan bahwa semakin awamnya teknologi baterai berarti pengurangan biaya produksi dapat ditekan dengan lebih cepat.
"Baterai cukup luar biasa, karena umat manusia telah lama menggunakan baterai dan jauh lebih lama daripada penyebaran panel surya," tutur Wills. Ia menilai permintaan untuk lebih banyak baterai, terutama baterai ion litium yang kerap ditemui pada alat elektronik seperti smartphone dan laptop, akan mendorong peningkatan produksi baterai.
Analis energi Ray Wills memprediksikan harga baterai akan segera turun, begitu juga dengan panel surya
"Kami telah melihat peningkatan sebesar 600 persen pada produksi panel surya dalam 5 tahun terakhir dan konsekuensinya harga panel surya turun lebih dari 80 persen dalam waktu beberapa tahun," catatnya, "dan kami akan melihat perkembangan serupa pada baterai."
Bagi Peter Holland, momen tersebut sudah terlalu lama ditunggu. "Meski sistem tenaga surya saya cukup menakjubkan, saya juga kecewa dan frustrasi karena tidak dapat mencapai tingkat efisiensi yang saya inginkan." (Sumber : dw.de/indonesia)

Selasa, 12 November 2013

Dampak Buruk Plastik Terhadap Ekosistem Laut.



Sejak lebih dari 10 tahun, para peneliti mencoba untuk mengungkap masalah pengotoran laut berdasarkan burung laut yang mati. Rata-rata ditemukan 31 partikel plastik di lambung bangkai hewan yang biasanya terdampar di pesisir pantai. Dari data ini para peneliti memperkirakan pada setiap kilometer persegi permukaan air ada sekitar 18.000 partikel plastik. Kadang ukurannya sangat kecil, kadang sebagai kantong plastik utuh.
Plastik Bertahan di Laut Ratusan Tahun
Banyak plastik yang baru terurai setelah 450 tahun, kata Benjamin Bongardt pakar sampah dari ikatan perlindungan alam Jerman (NABU). Sebagian besar pengotoran berasal dari plastik yang diproduksi abad ini. "80 persen plastik datang dari darat dan tidak dari laut. Artinya, plastik tidak dibuang dari kapal, melainkan dari turis, penduduk yang dibawa sungai dan angin ke lautan." Khususnya plastik yang tipis dan ringan dan setelah dipakai sekali langsung dibuang, mudah terbang dari lokasi pembuangan sampah.
Komisi Eropa di BrĂ¼ssel kini memutuskan untuk mendesak negara anggota mengurangi secara drastis penggunaan kantong plastik. 100 milyar kantong plastik digunakan di Uni Eropa setiap tahun. Komisaris urusan lingkungan Janez Potocnik: "Lebih dari delapan milyar plastik menjadi sampah dan menimbulkan masalah lingkungan luar biasa, khususnya hewan yang menelan partikelnya."
Empat Kantong Plastik di Finlandia, 450 di Slowakia
Namun masalah kantong plastik tidak sama bagi setiap negara. Denmark dan Finlandia hanya membutuhkan empat kantong plastik per orang setiap tahunnya. Sementara Polandia, Portugal dan Slowakia perlu lebih dari 450 kantong. Di Jerman per orangnya menggunakan 70 kantong plastik. "Beberapa negara anggota telah sukses mengurangi jumlah kantong plastik", ujar Potocnik. "Jika negara lain mengikutinya, maka konsumsi di Uni Eropa bisa berkurang 80 persen."
Usulan komisaris lingkungan Uni Eropa harus diterima terlebih dahulu oleh Parlemen Eropa dan dewan menteri Uni Eropa yang diwakili pemerintahan negara anggota. Beberapa diantaranya bisa mengajukan keberatan. Negara dengan industri plastik yang kuat seperti Perancis dan Jerman akan berusaha mengurangi tuntutan Uni Eropa.
Benjamin Bongart dari NABU mendukung usulan komisaris Uni Eropa. Ia merujuk pada langkah yang diambil oleh Irlandia. Negara ini setiap tahunnya menaikkan pajak penggunaan kantong plastik. Saat ini setiap kantong plastik pajaknya 22 sen: "Dampaknya, jumlah penggunaan kantong plastik berkurang hingga 90 persen dan kini setiap penduduk di Irlandia per tahunnya hanya menggunakan 18 kantong plastik."
Semakin Kaya, Semakin Banyak Plastik
Pakar masalah sambah dari NABU ini menganggap Uni Eropa sebagai motor perlindungan lautan di seluruh dunia. Karena ini bukan hanya masalah di Eropa. Khususnya di negara ambang industri yang semakin maju juga semakin banyak menggunakan produk plastik.
Jika dibandingkan dengan negara-negara tersebut, masalah di Eropa tidak separah itu. Bongardt menambahkan, "Tentu Uni Eropa tidak bisa menyelesaikan masalah di seluruh dunia. Tapi setidaknya kita bisa memberikan contoh baik dan mengatakan kita di negara industri berupaya mengurangi plastik. Dan mungkin saja ini bisa diikuti oleh beberapa negara ambang industri." (sumber : dw.de/indonesia)